Kode dokumen cetak dapat dibuat dengan menggabungkan singkatan jenis dokumen, kode divisi, periode penerbitan, dan nomor urut. Susunan tersebut harus digunakan secara konsisten agar setiap faktur, surat jalan, tanda terima, dan arsip memiliki identitas unik serta lebih mudah dicari, dicocokkan, dan dilacak oleh bagian yang berkepentingan.

Dalam aktivitas bisnis sehari-hari, dokumen sering berpindah dari bagian administrasi ke gudang, finance, operasional, hingga pelanggan. Tanpa sistem pengodean yang jelas, dokumen berisiko tertukar, tercatat ganda, atau sulit ditemukan kembali saat dibutuhkan. 

Artikel ini akan membahas jenis dokumen yang perlu diberi kode, cara menyusun formatnya, posisi kode pada lembar cetak, hingga pemeriksaan sebelum dokumen dicetak dalam jumlah banyak.

Mengapa Dokumen Cetak Perlu Memiliki Kode yang Jelas

Dokumen cetak perlu memiliki kode yang jelas agar setiap transaksi dapat dicari, dicocokkan, dan diteruskan antarbagian tanpa mudah tertukar. Kode berfungsi sebagai identitas unik yang menghubungkan lembar fisik dengan transaksi, periode, divisi, serta data yang tersimpan dalam sistem perusahaan.

Dalam satu transaksi penjualan, perusahaan dapat menghasilkan beberapa dokumen dengan informasi yang saling berhubungan. Tim sales menerbitkan pesanan atau faktur, gudang menyiapkan surat jalan, pengemudi membawa bukti pengiriman, sedangkan finance menyimpan tanda terima dan bukti pembayaran. Apabila setiap bagian menggunakan acuan yang berbeda, proses pencocokan dokumen menjadi lebih lambat dan rawan kesalahan.

Prinsip pengelolaan arsip dalam ISO 15489-1:2016 mencakup penciptaan, pencatatan, pengendalian, dan pengelolaan arsip agar tetap dapat digunakan selama dibutuhkan. Dalam praktik administrasi perusahaan, kode dokumen yang unik dan konsisten membantu menjaga keterlacakan tersebut, termasuk ketika satu transaksi menghasilkan beberapa lembar fisik untuk pihak berbeda.

Penerapan sistem penomoran dokumen memberikan beberapa manfaat berikut:

  • Mempercepat pencarian dokumen. Admin dapat mencari dokumen berdasarkan jenis, periode, divisi, atau nomor urut yang tercetak.
  • Memudahkan pencocokan antarbagian. Faktur dapat dihubungkan dengan surat jalan, pesanan penjualan, tanda terima, dan bukti pembayaran.
  • Mengurangi risiko nomor ganda. Setiap dokumen memiliki identitas yang seharusnya tidak digunakan kembali.
  • Merapikan alur dokumen administrasi. Setiap bagian memahami dokumen yang harus dibuat, diteruskan, dikembalikan, atau disimpan.
  • Mendukung pengelolaan arsip. Dokumen dapat dikelompokkan berdasarkan tahun, bulan, divisi, cabang, atau jenis transaksi.
  • Mempermudah pemeriksaan. Tim dapat mengikuti urutan transaksi dan menemukan dokumen pendukung ketika terjadi selisih data atau audit.

Kode tidak akan efektif jika setiap divisi membuat formatnya sendiri. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki pedoman yang menjelaskan susunan kode, arti setiap singkatan, pihak yang menerbitkan nomor, waktu pengulangan nomor urut, serta prosedur untuk dokumen yang batal atau salah cetak.

Jenis Dokumen yang Sebaiknya Diberi Kode

Dokumen yang berpindah antarbagian, menjadi bukti transaksi, memerlukan persetujuan, atau harus disimpan untuk pemeriksaan sebaiknya diberi kode. Penomoran tidak hanya diperlukan pada dokumen keuangan, tetapi juga pada dokumen gudang, pengiriman, dan operasional.

1. Faktur dan Invoice

Faktur atau invoice perlu memiliki kode unik karena menjadi dasar pencatatan transaksi, penagihan, dan pembayaran. Nomor dokumen cetak pada faktur membantu finance memastikan bahwa pembayaran pelanggan dicatat pada transaksi yang benar.

Kode faktur dapat memuat singkatan jenis dokumen, periode penerbitan, dan nomor urut. Contohnya adalah INV-2507-001, yang menunjukkan invoice periode Juli 2025 dengan nomor urut 001. Jika perusahaan memiliki beberapa cabang, kode lokasi dapat ditambahkan selama formatnya tetap ringkas dan mudah dipahami.

Nomor faktur juga dapat dicantumkan sebagai referensi pada surat jalan dan tanda terima. Dengan demikian, seluruh dokumen faktur dan surat jalan dalam satu transaksi dapat dicocokkan menggunakan satu referensi yang sama.

2. Surat Jalan dan Bukti Pengiriman

Surat jalan perlu diberi kode karena dokumen ini mengikuti pergerakan barang dari gudang hingga diterima pelanggan. Dokumen tersebut biasanya diperiksa oleh admin penjualan, petugas gudang, pengemudi, penerima barang, dan finance sehingga memiliki risiko lebih besar untuk tertukar atau tidak kembali ke bagian yang tepat.

Kode seperti SJ-GDG-2507-015 menunjukkan bahwa dokumen tersebut merupakan surat jalan dari bagian gudang, diterbitkan pada Juli 2025, dan memiliki nomor urut 015. Surat jalan juga sebaiknya mencantumkan nomor pesanan atau faktur yang berkaitan agar status barang dan penagihan dapat ditelusuri dalam satu alur.

3. Tanda Terima dan Form Internal

Tanda terima dan form internal perlu diberi kode ketika digunakan sebagai bukti perpindahan dokumen, barang, uang, atau tanggung jawab. Contohnya meliputi tanda terima dokumen, form permintaan barang, bukti serah terima, form pemeriksaan, dan lembar persetujuan.

Kode divisi menjadi penting pada dokumen internal karena formulir dari beberapa bagian sering memiliki bentuk yang hampir sama. Sebagai contoh, kode TT-FIN-2507-008 menunjukkan tanda terima yang diterbitkan oleh bagian finance pada Juli 2025 dengan nomor urut 008.

Pemberian kode juga membantu perusahaan mengetahui apakah form sudah diproses, masih menunggu persetujuan, atau telah dikembalikan setelah ditandatangani.

4. Arsip Keuangan dan Operasional

Arsip keuangan dan operasional perlu memiliki kode agar dapat ditemukan kembali berdasarkan transaksi dan periode penyimpanan. Dokumen yang termasuk dalam kelompok ini antara lain bukti kas masuk, bukti kas keluar, laporan stok, berita acara, lembar rekonsiliasi, serta catatan pemeriksaan atau pemeliharaan.

Kode pada arsip dokumen bisnis harus sama dengan kode yang tercatat dalam spreadsheet, software administrasi, atau sistem perusahaan. Perbedaan antara nomor pada dokumen fisik dan data digital dapat menyebabkan kesalahan saat rekonsiliasi maupun audit.

Berikut beberapa contoh penerapannya:

Jenis dokumen

Fungsi dokumen

Contoh kode

Bagian yang menggunakan

Faktur atau invoice Mencatat transaksi dan menjadi dasar penagihan INV-2507-001 Sales, admin, dan finance
Surat jalan Mendampingi proses pengiriman barang SJ-GDG-2507-015 Gudang, logistik, dan admin
Tanda terima Membuktikan penerimaan dokumen, uang, atau barang TT-FIN-2507-008 Finance, admin, dan penerima
Form permintaan barang Mencatat permintaan barang dari suatu divisi FPB-OPS-2507-012 Operasional, purchasing, dan gudang
Bukti kas keluar Mencatat pengeluaran perusahaan BKK-FIN-2507-021 Finance dan accounting
Berita acara Mendokumentasikan pemeriksaan atau serah terima BA-OPS-2507-006 Operasional, manajemen, dan admin

Cara Membuat Format Kode Dokumen yang Mudah Dibaca

Format kode dokumen yang mudah dibaca sebaiknya menggunakan susunan tetap: jenis dokumen, divisi jika diperlukan, periode, dan nomor urut. Setiap elemen harus memiliki fungsi yang jelas agar kode tidak menjadi terlalu panjang atau sulit diketik.

Format dasarnya dapat dibuat seperti berikut:

[JENIS DOKUMEN]-[DIVISI]-[PERIODE]-[NOMOR URUT]

Perusahaan dengan alur sederhana tidak wajib memasukkan seluruh elemen. Jika hanya satu bagian yang menerbitkan dokumen, kombinasi jenis dokumen, periode, dan nomor urut sudah cukup.

Langkah penyusunannya adalah:

  1. Tentukan singkatan untuk setiap jenis dokumen.
  2. Putuskan apakah kode divisi atau cabang diperlukan.
  3. Pilih format periode yang digunakan secara konsisten.
  4. Tentukan jumlah digit nomor urut.
  5. Tetapkan kapan nomor urut dimulai kembali.
  6. Dokumentasikan aturan tersebut dan gunakan pada seluruh bagian.

1. Gunakan Singkatan Jenis Dokumen

Bagian pertama kode harus menunjukkan jenis dokumen agar pengguna dapat mengenalinya tanpa membuka isi dokumen. Singkatan sebaiknya pendek, tidak ambigu, dan tidak dipakai untuk dua dokumen berbeda.

Contoh singkatan yang dapat digunakan antara lain:

  • INV: Invoice atau faktur
  • SJ: Surat jalan
  • TT: Tanda terima
  • FPB: Form permintaan barang
  • BKM: Bukti kas masuk
  • BKK: Bukti kas keluar
  • BA: Berita acara

Perusahaan perlu membuat daftar singkatan resmi yang dapat digunakan oleh seluruh divisi. Jangan sampai admin memakai kode INV, sedangkan finance menggunakan kode FAK untuk jenis dokumen yang sama karena perbedaan tersebut akan menyulitkan pencarian.

2. Tambahkan Tanggal atau Periode Dokumen

Periode membantu pengguna mengenali waktu penerbitan dokumen tanpa harus membaca seluruh isinya. Format 2507, misalnya, dapat ditetapkan sebagai Juli 2025. Jika volume transaksi harian sangat tinggi, perusahaan dapat menggunakan tanggal lengkap seperti 250728 untuk 28 Juli 2025.

Pilih satu pola tanggal dan pertahankan penggunaannya. Jangan menggunakan format 0725 pada satu bagian dan 2507 pada bagian lain karena urutan tersebut dapat menimbulkan salah tafsir ketika dokumen disatukan.

Perusahaan juga perlu menentukan apakah periode mengikuti tanggal pembuatan, tanggal transaksi, atau tanggal pengiriman. Untuk surat jalan, misalnya, perusahaan dapat memilih tanggal dokumen diterbitkan sebagai acuan agar sesuai dengan catatan gudang.

3. Masukkan Nomor Urut agar Dokumen Mudah Dilacak

Nomor urut berfungsi membedakan dokumen dalam jenis dan periode yang sama. Gunakan jumlah digit tetap agar nomor tersusun rapi saat diurutkan secara fisik maupun digital.

Nomor tiga digit, mulai dari 001 sampai 999, menyediakan 999 nomor unik dalam satu periode. Jika jumlah dokumen diperkirakan melebihi 999 per bulan, perusahaan dapat menggunakan empat digit, mulai dari 0001 sampai 9999. Penentuan jumlah digit sejak awal mencegah perubahan format ketika volume transaksi meningkat.

Perusahaan juga harus menetapkan kapan nomor urut kembali ke awal, misalnya setiap bulan atau setiap tahun. Jika sebuah nomor batal digunakan, nomor tersebut sebaiknya tetap dicatat sebagai dokumen batal dan tidak dialihkan ke transaksi lain. Cara ini membuat urutan dokumen tetap dapat ditelusuri.

4. Gunakan Kode Divisi Jika Dokumen Dipakai Banyak Tim

Kode divisi diperlukan jika jenis dokumen yang sama dapat diterbitkan oleh beberapa bagian. Elemen ini membantu membedakan dokumen milik gudang, finance, administrasi, atau operasional.

Beberapa contoh singkatannya adalah:

  • GDG: Gudang
  • FIN: Finance
  • ADM: Administrasi
  • OPS: Operasional
  • PUR: Purchasing
  • SLS: Sales

Kode divisi tidak perlu ditambahkan jika hanya membuat nomor lebih panjang tanpa memberikan manfaat. Sebagai contoh, jika seluruh invoice hanya diterbitkan oleh finance, kode FIN dapat dihilangkan dan formatnya cukup dibuat menjadi INV-2507-001.

Berikut arti dari beberapa format kode dokumen:

Contoh kode

Arti kode

INV-2507-001 Invoice periode Juli 2025 dengan nomor urut 001
SJ-GDG-2507-015 Surat jalan dari gudang, periode Juli 2025, nomor urut 015
TT-FIN-2507-008 Tanda terima dari finance, periode Juli 2025, nomor urut 008
FPB-OPS-2507-012 Form permintaan barang dari operasional, periode Juli 2025, nomor urut 012
BA-ADM-2507-006 Berita acara dari administrasi, periode Juli 2025, nomor urut 006

Posisi Kode Dokumen pada Lembar Cetak

Kode dokumen sebaiknya ditempatkan di area yang dapat ditemukan dalam beberapa detik tanpa menutupi informasi utama. Posisi yang konsisten membantu pengguna mengenali dokumen saat masih berada di baki printer, map, atau tumpukan arsip.

1. Letakkan di Header untuk Dokumen Formal

Header atau sudut kanan atas menjadi posisi yang tepat untuk invoice, surat jalan, berita acara, dan dokumen yang sering dicari kembali. Kode dapat ditempatkan berdekatan dengan tanggal agar identitas serta periode dokumen terlihat dalam satu area.

Posisi tersebut juga memudahkan petugas membaca nomor tanpa mengeluarkan seluruh lembar dari map. Gunakan ukuran huruf yang tetap dapat terbaca ketika dokumen dipindai atau difotokopi.

2. Letakkan di Area Dekat Tanda Tangan untuk Dokumen Persetujuan

Pada dokumen persetujuan atau serah terima, kode dapat dicetak kembali dalam ukuran lebih kecil di dekat area tanda tangan. Tujuannya adalah memastikan bahwa lembar yang telah disetujui masih merupakan bagian dari dokumen yang sama.

Kode utama tetap sebaiknya berada di header. Kode di dekat tanda tangan hanya berfungsi sebagai identitas tambahan, terutama pada dokumen yang terdiri dari beberapa halaman atau mudah terpisah.

3. Pastikan Kode Terbaca di Semua Rangkap

Pada kertas NCR atau continuous form, kode harus terlihat jelas dari lembar pertama hingga rangkap terakhir. Kode yang hanya terbaca pada lembar utama akan menyulitkan pencocokan salinan untuk pelanggan, gudang, dan finance.

Setiap rangkap dapat menggunakan kode transaksi yang sama, tetapi diberi keterangan fungsi berbeda, misalnya:

  • Lembar pertama: Untuk Pelanggan
  • Lembar kedua: Untuk Gudang
  • Lembar ketiga: Untuk Finance
  • Lembar keempat: Untuk Arsip

Sebelum mencetak dalam jumlah banyak, periksa tekanan printer, ketajaman pita, posisi kertas, dan hasil tembus. Pengujian perlu dilakukan dengan jumlah ply yang benar karena hasil pada dua rangkap belum tentu sama dengan hasil pada tiga atau empat rangkap.

Penyesuaian kode dengan jenis kertas

Sesuaikan Kode dengan Jenis Kertas yang Digunakan

Kode harus disesuaikan dengan karakteristik kertas dan metode pencetakannya agar tetap terbaca pada seluruh dokumen. Ukuran huruf, ketebalan karakter, posisi cetak, jumlah rangkap, dan jenis printer perlu diperiksa sebelum format digunakan secara rutin.

Pada kertas NCR, hindari font terlalu tipis, ukuran terlalu kecil, atau warna dengan kontras rendah. Periksa hasilnya hingga lembar paling bawah karena informasi pada rangkap terakhir berisiko terlihat lebih samar.

Continuous form sesuai untuk pencetakan berulang menggunakan printer dot matrix, seperti faktur, surat jalan, kuitansi, atau laporan operasional. Posisi kode tidak boleh terlalu dekat dengan perforasi maupun lubang tractor feed. Jika perusahaan menggunakan formulir preprinted, sediakan ruang yang cukup untuk mencetak kode variabel, tanggal, dan nomor transaksi.

Kertas HVS lebih fleksibel untuk surat, berita acara, laporan, dan formulir formal yang dicetak dengan printer laser atau inkjet. Sementara itu, kertas buram dapat digunakan untuk dokumen internal yang tidak memerlukan tampilan premium, selama kode dan informasi transaksi tetap terbaca dengan jelas.

Untuk memahami karakteristik, fungsi, dan pilihan ukuran continuous form, baca artikel berikut: Apa Itu Kertas Continuous Form? Fungsi, Kegunaan, serta Berbagai Macam Ukurannya

Pemilihan kertas yang tepat membantu nomor dokumen, tanggal, nominal, jumlah barang, dan area tanda tangan tercetak jelas pada seluruh salinan yang dibutuhkan.

Kesalahan yang Sering Membuat Kode Dokumen Tidak Efektif

Kode dokumen menjadi tidak efektif ketika formatnya terlalu rumit, berubah-ubah, atau tidak diterapkan pada seluruh rangkap. Kesalahan tersebut dapat tetap terjadi meskipun perusahaan sudah memberikan nomor pada setiap dokumen.

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari adalah:

  • Kode terlalu panjang. Memasukkan terlalu banyak informasi meningkatkan risiko salah ketik dan menyulitkan pencarian.
  • Format berbeda antarbagian. Perbedaan urutan elemen membuat arsip tidak dapat dikelompokkan secara konsisten.
  • Satu singkatan digunakan untuk beberapa dokumen. Pengguna tidak dapat mengenali jenis dokumen hanya dari kodenya.
  • Nomor urut lompat tanpa catatan. Urutan yang hilang dapat menimbulkan pertanyaan saat rekonsiliasi atau audit.
  • Nomor dokumen batal digunakan kembali. Penggunaan ulang dapat menghasilkan dua dokumen dengan identitas sama.
  • Kode tidak dicetak di seluruh rangkap. Salinan untuk gudang, finance, atau pelanggan menjadi sulit dicocokkan.
  • Tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Jika semua orang dapat menerbitkan nomor tanpa kontrol, risiko duplikasi akan meningkat.
  • Nomor fisik dan digital berbeda. Kode pada lembar cetak harus sama dengan nomor pada spreadsheet atau sistem perusahaan.
  • Periode tidak memiliki format tetap. Kode seperti 0725 dapat dibaca sebagai Juli 2025 atau tanggal lain jika tidak ada pedoman.
  • Hasil cetak tidak diuji. Kode dapat terpotong, bergeser, atau tidak terlihat pada rangkap terakhir.

Sebelum format diterapkan secara menyeluruh, lakukan pengujian pada satu alur transaksi. Minta admin, gudang, finance, dan operasional mencoba mencari serta mencocokkan dokumen menggunakan kode tersebut. Jika pengguna masih harus menebak arti kode, susunannya perlu disederhanakan.

Checklist Sebelum Mencetak Dokumen Berkode dalam Jumlah Banyak

Pemeriksaan satu set contoh cetak dapat mencegah kesalahan yang sama terulang pada ratusan atau ribuan lembar. Gunakan checklist berikut sebelum menyetujui pencetakan massal:

  • Singkatan jenis dokumen sudah sesuai dengan pedoman perusahaan.
  • Urutan jenis dokumen, divisi, periode, dan nomor urut sudah benar.
  • Tidak terdapat nomor ganda atau nomor batal yang digunakan kembali.
  • Periode pada kode sudah sesuai dengan tanggal dokumen.
  • Posisi kode mudah ditemukan dan tidak terpotong margin.
  • Kode tidak bertabrakan dengan logo, tabel, perforasi, atau area tanda tangan.
  • Ukuran dan ketebalan huruf cukup jelas saat dicetak.
  • Jenis serta ukuran kertas sesuai dengan printer yang digunakan.
  • Print percobaan telah menggunakan data yang menyerupai transaksi sebenarnya.
  • Kode terbaca pada seluruh rangkap kertas NCR atau continuous form.
  • Nomor pada dokumen fisik sudah cocok dengan data dalam sistem.
  • Setiap rangkap memiliki keterangan penerima yang benar.
  • Satu contoh cetak yang telah disetujui disimpan sebagai acuan.

Jika salah satu pemeriksaan belum terpenuhi, tunda pencetakan massal dan perbaiki desain atau pengaturan printer terlebih dahulu. Langkah ini lebih efisien daripada menyortir ulang dokumen atau mencetak seluruhnya dari awal.

Mencetak dokumen

FAQ Seputar Kode Dokumen Cetak

Penerapan kode dokumen sering menimbulkan pertanyaan mengenai format penomoran, jenis dokumen yang perlu diberi kode, posisi pencetakan, dan penggunaannya pada dokumen rangkap. Berikut jawaban atas beberapa pertanyaan yang dapat membantu perusahaan menerapkan kode dokumen cetak secara lebih konsisten dan mudah dilacak. 

1. Apa itu kode dokumen cetak?

Kode dokumen cetak adalah identitas berupa kombinasi huruf, angka, atau tanda pemisah yang digunakan untuk membedakan satu dokumen dari dokumen lainnya. Kode biasanya menunjukkan jenis dokumen, divisi penerbit, periode, dan nomor urut.

2. Apa saja dokumen bisnis yang perlu diberi kode?

Dokumen yang perlu diberi kode meliputi faktur, surat jalan, kuitansi, tanda terima, form permintaan barang, bukti kas masuk atau keluar, berita acara, laporan stok, form pemeriksaan, serta dokumen lain yang perlu dilacak atau disimpan sebagai bukti kegiatan bisnis.

3. Bagaimana cara membuat nomor dokumen yang rapi?

Gunakan pola yang singkat dan tetap, misalnya jenis dokumen, kode divisi jika dibutuhkan, periode, lalu nomor urut. Contohnya adalah SJ-GDG-2507-015. Dokumentasikan arti setiap elemen dan tentukan kapan nomor urut dimulai kembali.

4. Apakah kode dokumen perlu dicetak di semua rangkap?

Ya. Seluruh rangkap sebaiknya memiliki kode yang sama agar salinan untuk pelanggan, gudang, finance, dan arsip dapat dicocokkan. Keterangan penerima dapat dibuat berbeda pada setiap lembar tanpa mengubah kode transaksinya.

5. Di mana posisi terbaik untuk meletakkan kode dokumen?

Posisi yang paling mudah ditemukan biasanya berada di header atau sudut kanan atas, berdekatan dengan tanggal. Pada dokumen persetujuan, kode dapat diulang dalam ukuran lebih kecil di dekat area tanda tangan atau footer.

6. Apa risiko jika dokumen cetak tidak memiliki kode?

Dokumen dapat tertukar, sulit ditemukan, tercatat dua kali, atau tidak dapat dihubungkan dengan transaksi terkait. Kondisi tersebut dapat memperlambat penagihan, pemeriksaan stok, penanganan komplain, rekonsiliasi keuangan, dan proses audit.

Kesimpulan

Kode dokumen cetak yang efektif harus singkat, unik, konsisten, dan dapat dibaca pada seluruh rangkap. Jika perusahaan hanya menerbitkan dokumen dari satu bagian, gunakan format sederhana berupa jenis dokumen, periode, dan nomor urut, seperti INV-2507-001. Jika dokumen diterbitkan oleh beberapa bagian, tambahkan kode divisi, seperti SJ-GDG-2507-015.

Jika dokumen hanya digunakan untuk kebutuhan internal, kertas HVS atau kertas buram dapat dipilih sesuai metode pencetakannya. Jika satu transaksi memerlukan salinan untuk pelanggan, gudang, finance, dan arsip, gunakan kertas NCR atau continuous form serta pastikan kode yang sama terbaca pada setiap rangkap.

Sebelum mencetak dalam jumlah banyak, uji satu set dokumen menggunakan data transaksi yang menyerupai kondisi sebenarnya. Cocokkan nomor cetak dengan data dalam sistem, periksa keterbacaan pada rangkap terakhir, lalu simpan contoh yang telah disetujui sebagai acuan pencetakan selanjutnya.

Siapkan Kertas yang Tepat untuk Dokumen Bisnis Anda

Untuk mendukung kebutuhan dokumen cetak yang lebih rapi dan mudah dikelola, CV. Sentosa Indopaper Prima menyediakan kertas NCR, continuous form, HVS, dan kertas buram untuk berbagai kebutuhan administrasi bisnis, gudang, percetakan, maupun lembaga.

Pilih jenis, ukuran, dan jumlah rangkap yang sesuai agar kode serta informasi pada faktur, surat jalan, tanda terima, dan form operasional tetap tercetak jelas. Hubungi CV. Sentosa Indopaper Prima untuk menemukan pilihan kertas yang sesuai dengan kebutuhan pencetakan dan alur dokumen perusahaan Anda.

Pabrik & Gudang
Jl. Raya Mastrip Bogangin No. 23 Surabaya – 60223 Jawa Timur – Indonesia

Jam Kantor
Senin – Jumat 08.00 – 16.00
Sabtu 08.00 – 13.00
Minggu / Hari besar libur

Telepon: 031 767 2777
Whatsapp: 087 7555 99777
Email: [email protected]

Referensi

International Organization for Standardization. (2016). ISO 15489-1:2016: Information and documentation—Records management—Part 1: Concepts and principles. https://www.iso.org/standard/62542.html 

Artikel ini sudah di review oleh:
Haryo J - CEO of Sentosa Indopaper Prima
Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri kertas NCR, Continuous Form, Register Roll